Home » » Ulangtahun vs Otonan

Ulangtahun vs Otonan

Bulan Juni tahun ini, saya akan genap berusia 17 tahun alias sweet seventeen. Rencananya sih mau dirayakan bersama keluarga dan teman-teman di rumah saya. Semoga saja rencana tersebut berjalan sesuai dengan rencana. Kalau dilihat dari kalender, ulangtahun saya akan jatuh pada hari Senin.

Entah bagaimana, saya juga lahir pada hari Senin tepat 17 tahun yang lalu. Tapi, ulangtahun saya kali ini tidak bertepatan dengan otonan saya. Otonan sendiri adalah peringatan hari kelahiran menurut tradisi umat Hindu di Bali yang dirayakan 2 kali dalam setahun atau setiap 6 bulan sekali.

Otonan ini berasal dari urat akar kata "pawetuan", yaitu suatu peringatan hari lahir menurut Hindu di Bali. Pelaksanannya didasarkan atas Sapta wara, Panca wara dan Wuku. Misalnya saya lahir pada Soma (Senin) Wage wuku Kulantir.

Menurut sistem kalender wuku, maka hari kelahiran (otonan) akan berulang setiap 6 bulan atau 6 x 35 hari = 210 hari. Kalau mau jujur, yang namanya ulangtahun tidak kenal dalam tradisi beragama Hindu di Bali. Umat Hindu Bali lebih mementingkan otonan.


Pada hari tersebut, upacara pemujaan kepada Hyang Widhi, karena atas perkenaan-Nya, atma bisa ber-reinkarnasi menjadi manusia. Otonan juga dimaksudkan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan dalam menempuh kehidupan selanjutnya.

Bali memang unik dan menarik bagi semua orang. Salah satu keunikan yang sudah menjadi tradisi umat Hindu Bali adalah perihal otonan Peringatan kelahiran dua kali dalam setahun yang sarat makna. Krama (orang) Bali diharapkan lebih sering bersyukur dengan apa yang telah diraihnya. Demikian juga, mereka lebih meningkatkan tingkat kedewasaannya dalam berpikir, berkata dan berperilaku sesuai dengan ajaran kebenaran.

Otonan biasanya dilangsungkan dirumah masing-masing. Terkecuali, otonan dilaksanakan di griya dan didoakan oleh seorang sulinggih. Upacara otonan bermakna sebagai puji syukur atas semua yang telah diberikan oleh-Nya. Dan, ada keyakinan dalam masyarakat bahwa pada saat upacara, Tuhan yang bermanifestasi sebagai Sang Hyang Dumadi akan hadir. Jika hari otonan bertepatan dengan bulan purnama, tingkat sarana upakaranya menggunakan sari ketimun atau babi guling.

Seluruh rangkaian upacara ini dilakukan di ruma, biasa di bale delod (bale = rumah/bangunan, delod = selatan). Upacara dipimpin oleh pandita atau seseorang yang tertua dalam keluarga.

Tradisi upacara otonan ini baisanya dilakukan dengan natab sesajen otonan. Tidak ada kue ulang tahun atau angka lilin seperti dalam perayaan ulang tahun. Pada saat natab, biasanya keempat saudara dipanggil dan disebut satu per satu.



Ciri khas atau tanda seseorang yang telah merayakan otonan adalah adanya benang putih yang diikatkan di pergelangan tangan kanannya. Melingkarkan gelang benang di pergelangan tangan si empunya otoonan, dengan pengantar doa :

"ne cening megelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi " (ini kamu memakai gelang benang, supaya berotot kawat dan bertulang besi).

Ada 2 makna yang daat dipetik yaitu pertama, benang memiliki konotasi beneng atau lurus dan beanng sering digunakan sebagai alat pembuat lurus sesuatu yang diukur. Kedua, benang memiliki sifat lentur, sebagai simbol kelenturan hati dan tidak mudah patah semangat. Sementara, ucapan doa bermakna harapan agar menjadi kuat dalam menjalani hidup.

Inilah tradisi upacara masyarakat Hindu Bali yang dikemas dengan simbol yang dapat dimaknai secara fisik ataupun psikologis. Semoga, putra-putri Hindu Bali menjadi tumpuan dan harapan keluarga.

(dikutip dari Harian NusaBali edisi Minggu, 19 Mei 2013)

0 komentar:

Posting Komentar

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS