Home » » Jurnalistik Sebagai Jalan Hidup

Jurnalistik Sebagai Jalan Hidup

Entah kenapa, belakangan ini (2 hari terakhir) dearryk suka menonton salah satu TV lokal, BaliTV. Kalau tidak salah, dalam salah satu acara interaktifnya kemarin (15 Januari 2012) yang dibahas adalah kesehatan reproduksi remaja. Jadi inget sama Anggun dan Pak Tama, sewaktu ikut KSPAN (Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba) di SMP. 

Hari ini (16 Januari 2012), setelah pulang sekolah entah kenapa lagi-lagi dearryk mijit remote TV dan muncullah BaliTV. Awalnya sih mau langsung ganti channel, tapi pas lihat judul acaranya : 

"JURNALISTIK DAN EKSPRESI REMAJA"

*selain itu, ada 3 cewek cantik dari SMAN 3 Denpasar, SMAN 8 Denpasar dan SMAK 2 Harapan sih.. 

Kebetulan yang diundang adalah perwakilan dari 3 sekolah diatas, yang kalau dilihat dari tampangnya semuanya cantik anak jurnalistik dan seorang perwakilan dari Denpost. *lupa nyatet namanya


Yang dibahas apalagi kalau bukan jurnalistik, dunia tulis-menulis dan rubrik baru di koran Denpost, yaitu Ekspresi. *kalau di Jawa Post mungkin namanya Deteksi. 

Satu hal yang menjadi perhatian seorang dearryk adalah cewek-cewek cantiknya kata-kata dari perwakilan Denpost yang mengatakan kalau mau menjadi wartawan lebih baik karena menganggap jurnalistik sebagai jalan hidup (way of life) dan bukan paksaan hidup. 

Selain itu, dunia jurnalistik di kalangan remaja khususnya di Bali sebenarnya banyak sekali peminatnya. Sayangnya, media dan dukungan untuk menyalurkannya masih kurang. Yang namanya dukungan bukan hanya berupa fasilitas-fasilitas untuk liputan tapi juga tempat dimana karya para jurnalis bisa dibaca oleh orang-orang secara luas. 

dearryk sendiri awalnya kurang mengerti dengan yang namanya dunia jurnalistik, walaupun dari SD sudah suka menulis yang dikarenakan hobi membaca sejak TK. Bahkan saat SD sempat membangkitkan kembali yang namanya Mading Sekolah. Sewaktu SMP, masih suka menulis tapi lebih sering menulis di blog saja. Tujuannya? Agar dibaca dan dikomentari banyak orang. 

Sekarang, di SMA kebetulan ada ekskul Jurnalistik. Tentunya ini kesempatan untuk mendalami dunia jurnalistik dan menyalurkan kembali hobi tulis-menulis yang sempat terbelenggu sekian lama. 

Oh ya, mau tau nggak apa keuntungannya jadi jurnalis muda (masih pelajar)?

1. Kita nggak perlu memikirkan mau nulis tentang berita politik atau kriminal yang gimana, cukup lihat sekitar kita aja. Kalo ada yang menarik, cukup diliput, ditulis dan dipublikasikan. Misalnya kita banyak lihat teman-teman kita pacaran di sekolah. Kita bisa aja nulis artikel dengan judul : "Emang Sekolah Tempat Pacaran?" atau "Inikah Fungsi Kedua Sekolah?"

2. Kita masih bebas mau nulis dengan gaya gimana pun. Tulisan-tulisan jurnalis muda biasanya dibaca oleh pembaca pemula (pelajar juga), jadi sebaiknya disampaikan dengan gaya santai dan jenaka (lucu-lucu gimana gitu). Oh ya, bukan berarti orangtua nggak akan baca tulisan kita lho. Inget nggak lagunya BCL (Bunga Citra Lestari) yang judulnya "Pernah Muda"?? Intinya, orang-orang tua akan tetap suka baca tulisan kita (kalau menarik) karena mereka udah pernah muda. *kita belum pernah tua

3. Belum terpengaruh. Pernah nggak kalian perhatiin kalau di TV, ada TV yang kayaknya dukung partai ini sedangkan TV lain dukung partai lainnya. Nah, ini karena TV-TV itu udah terpengaruh politik. Sedangkan kita? kan nggak ada kepentingan partai manapun. Jadi, nggak mungkin terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan pihak-pihak tertentu. 

Jurnalistik sebagai jalan hidup adalah sebuah pilihan, jurnalistik adalah dunia yang tidak akan membuat kita kaya. Tapi, jurnalistik akan membuat kita bangga. Karena seorang jurnalis akan merasa sangat bangga jika dia gugur saat bertugas menyampaikan kebenaran kepada banyak orang. 

0 komentar:

Posting Komentar

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS